Nothing Is Original

Nothing Is Original



Ada satu hal yang sering saya pikirkan setiap kali merasa kehabisan ide:
bagaimana kalau semua yang ingin saya buat ternyata sudah pernah dibuat orang lain?

Rasanya tidak jarang muncul rasa ragu setiap kali ingin mulai menulis, menggambar, atau menciptakan sesuatu.
Namun, ketika saya membaca Steal Like an Artist, Austin Kleon menulis kalimat sederhana yang mengubah cara saya melihat hal itu:

“Nothing is original.”

Awalnya saya menganggap kalimat itu terdengar pesimis.
Seolah tidak ada gunanya berusaha kalau semua sudah pernah ada sebelumnya.
Tapi semakin lama saya renungkan, saya justru menemukan sisi yang lebih jujur — bahwa mungkin, memang tidak ada yang benar-benar orisinal. Dan itu bukan hal yang buruk.

Kita semua adalah hasil dari campuran pengaruh:
film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, orang-orang yang pernah kita temui, hingga pengalaman kecil yang menempel tanpa kita sadari.
Setiap hal yang kita buat adalah refleksi dari semua hal yang pernah kita sukai dan pelajari.

Kita tidak menciptakan dari ruang kosong; kita menciptakan dari ingatan.
Kita meniru, menyerap, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang punya rasa pribadi.
Dan di sanalah letak keaslian sebenarnya — bukan pada seberapa “baru” idenya, tapi seberapa “kita” isi di dalamnya.

Sekarang, setiap kali saya mulai merasa takut dibilang tidak orisinal, saya mencoba mengingat satu hal:
tidak apa-apa terinspirasi. Karena inspirasi bukan dosa, tapi fondasi dari setiap karya yang pernah ada.

Orisinalitas bukan berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sama sekali.
Orisinalitas berarti menciptakan versi baru dari sesuatu yang sudah ada — dengan sentuhan kita di dalamnya.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Kalau bingung, ga apa2 kok kita mencari bahan sebagai acuan. Hal2 yang menginspirasi boleh kita amati dulu kemudian digodok lagi menjadi lebih inovatif.

    BalasHapus